Jumat, 04 April 2008

Machiavelli versus Covey

Membahas teori2 Machiaveli memang sangat menarik. Bagi saya pribadi,

membaca buku "The Prince" - nya Machiaveli (Sang Pangeran untuk versi

Indonesianya), banyak memberikan paradigma baru mengenai cara pandang para

pemain politik baik itu di level negara maupun perusahaan. Dan membaca buku

"Mafia Manajer" karangan "V" mungkin dapat lebih memperkaya ide-ide

implementasi teori Machiaveli di dunia kerja.

Kalau menurut saya sebenarnya banyak persamaan antara teori Sun Tzu dengan

Machiaveli namun memang, Machiaveli menyajikan dengan begitu gamblang,

lugas, dan relatif kasar, karena memang itulah kondisi yang terjadi

sebenarnya dan teori Machiaveli lebih "down to earth".

Musuh utama dari Teori dasar Machiaveli adalah Integritas (bagian dari habit

be proactive)-nya Steven Covey. Kalau pertanyaannya cara mana yang sebaiknya

ditempuh ? itu berpulang kepada moral (dan tingginya penghayatan nilai

keagamaan) orang tersebut. Namun bila ditanya mana yang lebih berhasil di

lapangan atau di dunia perkantoran, kemungkinan berimbang.

Contohnya adalah seorang sales asuransi bisa menjual asuransi-nya dengan dua

cara :

1. Dengan menjadi orang yang sangat terpercaya (Abraham Lincon mengatakan

bahwa untuk bisa menjual sesuatu kepada orang lain adalah dengan menjadi

teman terbaik dari si calon pembeli atau menjadi orang yang sangat bisa

dipercaya).

Si pembeli akan berkata : "Hmm kalau kamu yang jual, saya percaya deh.

Selama ini sih kamu nggak pernah bohong." That's Integrity (untuk point ini

ada beberapa teman saya yang saya recommend untuk menjual asuransi padahal

dia tidak pandai bicara, dan tidak pintar nego dll, namun dia jujur luar

biasa dan terbukti cukup sukses dan akhirnya dia juga belajar skill-skill

penjualan yang saya lihat dalam kapasitas melengkapi Integrity-nya, bukan

sebaliknya).

2. Dengan menjadi orang yang jago dalam persuasi, presentasi dan negosiasi.

Terlepas dari yang diceritakannya bohong (membesar-besarkan keunggulan

produknya / track recordnya) atau tidak maka si pembeli akan sangat

terpengaruh untuk membelinya. Si penjual model ini akan memanfaatkan

kelemahan-kelemahan manusia untuk dapat menjual produknya, seperti keraguan

: "ini hari terakhir kita discount" padahal besok nya masih discount,

ketakutan : "semua orang sudah pakai produk kita bahkan atasan bapak juga

bahkan tetangga bapak, kalau kehabisan, stock berikutnya masih 2 bulan lagi,

gimana pak ?"

Si pembeli akan berpikir : "Dari pada kehabisan atau kesalahan, beli aja

deh."

Contoh di atas memberikan hasil yang sama : "Calon pembeli akhirnya menjadi

pembeli."

Pembedanya : Penjual yang pertama akan lebih langgeng, yang kedua hanya

sesaat. Pertanyaannya menjadi : mau pilih yang mana ?

Jawabannya : Tergantung kebutuhan. Bila yang dijual adalah retail, dan butuh

hubungan jangka panjang, maka metoda Covey lah jawabannya. Namun bila yang

dijual adalah transaksi 100 M ke atas, maka cara kedua adalah pilihannya.

Yang penting transaksi sudah berhasil, 100 M sudah ditangan keuntungan

bersih 10 M, jadi kepercayaan is not important anymore, toh saya sudah bisa

hidup lumayan bertahun-tahun.

Hehehe....tolong jawaban tersebut itu jangan ikuti, karena jawabannya itu

sendiri sudah Machiavelis sekali.

Kalau kita pernah menjalankan suatu organisasi sebagai pimpinan, pasti kita

juga sadar bahwa untuk department tertentu kita butuh orang-orang

berintegritas tinggi ala Integritas-nya Covey, namun untuk bagian tertentu

lain kita sangat memerlukan Machiavelian sejati, dan kita pasti juga butuh

yang berintegritas dan sekaligus berwawasan machiavelis (pasti ini kader

pengganti anda berikutnya).

Mestinya yang paling efektif adalah menjadi manusia berintegritas ala Covey,

namun menguasai strategi 2x politik ala Machiaveli sehingga mampu

mengantisipasi serangan-serangan dari pihak yang tidak memiliki integritas

dan mampu melancarkan strategi terbaik (apapun itu) bila diperlukan.

"Lebih baik ditakuti daripada dihormati dan Gunakan segala cara untuk

mendapatkan tujuan." Itu kata Machiaveli. Dan slogan itu pula yang digunakan

oleh Bos Mafia (Paul Newman) dalam Film Tom Hanks "Road to Predition". Si

Paul Newman mengatakan kepada Tom Hanks di Film itu : "Kau tau kan bahwa

bisnis kita (bisnis mafia) adalah bisnis yang paling efektif, tapi kau pasti

juga tau bahwa kita yang menjalankan bisnis ini adalah orang-orang yang

sudah berjanji untuk tidak pernah melihat surga." Di dunia kerja sih nggak

seseram itu, tapi itulah kurang lebih gambaran extrimnya.

Catatan lain : Napoleon Bonaparte mempunyai buku favorite yaitu "The Prince"

- nya Machiaveli yang katanya selalu ada di bantalnya, dan Napoleon

Bonaparte adalah idolanya Bill Gates.

Ashari Abidin

Tidak ada komentar: